tua itu pasti, dewasa?

terdengar sangat klise, memang. saya selalu merasa seolah saya ini sudah dewasa, seolah berumur 19, 20, 21, 22, … dst adalah bukti kedewasaan saya. tapi setelah saya pikirkan lagi, menurut saya, itu bukan. dewasa bukan ditandai dengan bertambahnya usia saya. pun bukan ditandai dengan sudah seberapa lama kita menghirup nafas di dunia. dewasa, menurut saya adalah ketika saya mau merenung, memikirkan hal-hal apa saja yang sudah, sedang, dan akan saya lakukan, membuat resume dalam otak saya tentang semua perbuatan saya, memilah mana yang baik dan buruk, tidak mengulangi kesalahan, itulah dewasa. atau, biasanya orang bilang, proses pendewasaan.

ketika saya selesai menuliskan kalimat terakhir, terlintas dalam otak saya, “Saya bahkan belum sanggup untuk melakukan apa yang saya tulis dengan sangat mudahnya..”. nah, muncul lagi quote baru, “Teori itu mudah, prakteknya yang sulit.” ya, benar sekali. memang berteori itu mudah, sangat mudah. semua orang bisa berteori, atau paling tidak, mengutip teori orang. orang cenderung lebih bisa berteori daripada prakteknya. padahal, dalam hidup ini, justru praktek itu yang paling penting. apa guna teori tanpa praktek?

tapi saya, paling tidak, tahu yang lebih penting lagi. mencoba. tak masalah kalaupun pada akhirnya gagal, keberanian untuk mencoba itu yang patut diacungi jempol. mencoba untuk berpikir lebih dewasa, mencoba untuk melaksanakan teori yang sudah banyak kita dapat, atau bahkan mencoba untuk berani mencoba. tidak salah kan? 🙂

oke, kembali ke topik tentang dewasa. saya akan merasa sangat kerdil sekali ketika berhadapan dengan orang yang begitu pemaaf. besar sekali hatinya.. sedang saya? jujur saja, saya orang yang sedikit temperamen, dan itu sangat menyusahkan. tetapi saya selalu berpikir lagi, ketika saya menjadi marah pada seseorang yang sebenarnya kemarahan tidak perlu terjadi, saya yang akan rugi. karena salam hidup, kita selalu membutuhkan orang lain. apa jadinya kalau saya begitu mudahnya marah sampai-sampai teman saya sendiri tidak mau menolong saya karena sikap saya? sedih sekali bukan.. saya tidak mau menjadi seperti itu. sebisa mungkin saya mencoba meredam amarah saya karena saya yang yang harus menyesuaikan dunia, bukan sebaliknya, dunia yang menyesuaikan saya 🙂 nah, ketika saya dapat memaafkan seseorang itulah saya merasa menang. saya menapaki satu tangga kedewasaan. memaafkan.

saya masih sembilan belas tahun. saya harap saya masih diberi banyak kesempatan untuk belajar mendewasakan diri oleh-Nya. memperbaiki kesalahn-kesalahan yang saya buat sejak aqil baligh. sejak itu dosa saya tanggung sendiri bukan? better than never 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s