krama inggil

random image from google πŸ™‚

siapa diantara Anda yang masih menggunakan krama inggil pada orang tua? πŸ˜€ kadang terasa sedih karena budaya Jawa yang indah ini perlahan mulai terkikis. saya adalah generasi muda yang termasuk mengikiskan budaya indah ini. menyadari hal ini pertama kali ketika saya berbincang dengan Hong Mieun, mahasiswa Korea yang belajar di Indonesia. tepatnya UNY, kampus saya. dia senang sekali dengan wayang kulit dan ingin sekali memainkan dan membuatnya. saya terguncang sesaat, aku aja nggak ngerti-ngerti amat cerita Baratayudha, gimana kalo ntar dia tanya, pikir saya. memalukan ya. padahal tugas saya adalah mengenalkan budaya Jawa pada mereka. saya memang masih menggunakan krama inggil pada simbah saya, pada orang tua saya, saya menggunakan krama saja. tetapi hanya sebatas itu. hanya sebatas menggunakan bahasa Jawa, bahasa ibu saya.

peristiwa tadi malam pun kembali mengingatkan betapa saya lupa akan pelajaran yang saya dapat dari sekolah dasar, nguri-uri kabudayan jawi. saya melihat pertunjukan wayang di televisi, simbah putri saya, bapak, dan pakdhe mulai ribut mendebatkan tokoh-tokoh wayang itu. sedang saya? saya hanya duduk mendengarkan mereka berceloteh dengan tidak satupun ide melintas di benak saya. saya masih tahu Pandawa. saya masih tahu nama-nama mereka. tetapi silsilah keluarga dan ceritanya? nol besar.

dan karena tekad tadi malam itu saya menulis blog ini, sembari menggogling kisah Ramayana dan Baratayudha. nah, mari kita sama-sama belajaaaaar πŸ™‚

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s