another glance.. then thank to God

aku jalan-jalan pagi tadi, naik motor juga sebetulnya. tapi tidak menarik gas terlalu kencang, jadi sembari berjalan aku masih bisa melihat sekeliling. baru menyadari juga kalau semuanya dilihat, benar-benar dilihat, mata kita seperti dibuka and somehow we understand something. contoh saja, kebetulan tadi aku berhenti sebentar untuk membetulkan headset yang terpasang di telinga. tiba-tiba seorang ibu dan seorang anak lewat, berjalan kaki. si ibu menggendong bayi, hmm, kira-kira berumur setahun, dan si anak memakai baju merah putih tidak disetrika dan tas lusuh. tiba-tiba aku berpikir untuk bersyukur. aku tidak pernah merasakan pergi ke tempat dimana aku belajar dengan berjalan kaki, apalagi masih sekecil itu (dilihat dari postur tubuh, anak berbaju merah putih tadi sekitar kelas 2 atau 3). tapi dibalik itu nampak kehangatan diantara mereka. si anak terlihat tertawa-tawa bersama ibunya, dan itu membuatku tersenyum. entah apa maksudku tersenyum, hanya saja bersyukur karena mereka terlihat bahagia :’)

sometimes it feels so hard to say, “Alhamdulillah..” . we’re too busy to envy others.

pernah pula beberapa kali ketika aku akan menuju kampus, aku melihat sepasang bapak-ibu, terlihat cukup tua untuk menarik gerobak sampah yang besar dan penuh. si bapak di depan, menarik. si ibu dibelakang, mendorong. berjalan. tanpa alas kaki. terpikir olehku, bagaimana jika hari menjelang siang dan matahari berubah terik? dan entah kenapa aku membayangkan ayah-ibuku melakukan hal serupa, dan tiba-tiba aku menangis.

i supposed to thank to God for what He has been giving to me. family. life. opportunities to get my dreams, instead of make them all a waste.

picture was taken from mediaindonesia.com

hari lain, bulanRamadhan ini, tengah terik-teriknya matahari aku melihat mereka. para pekerja sedang mengecat trotoar. pertanyaan sagat bodoh terlintas di kepalaku, “What are they doing here, at this time? is that something have-to-do?” lalu isi kepalaku yang lain menjawab, “They’re making money you stupid.” dan aku bersyukur lagi, kedua orang tuaku dan aku tidak harus bekerja seperti mereka untuk mendapatkan uang. suddenly i felt sorry for myself for always asking money to my parents..

much more things we supposed to thank to Him, if we want to make a room, even few seconds to see, to understand things around us..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s